Selasa, 31 Oktober 2017

Selamat Ulang Tahun Aku, Kamu, dan Pernikahan Kita

Terima kasih Tuhan atas segala rahmat_Mu.

---

Selamat ulang tahun. Ucapan ini untuk aku, kamu, dan pernikahan kita.

Sebenarnya, tulisan ucapan ini sudah sangat terlambat. Tapi secara lisan, kamu pasti ingat kapan aku mengucapkannnya.

Ya, kita lahir di bulan yang sama, September. Meski tanggalnya berbeda. Aku tanggal 7, kamu 21 hari setelahnya.

Ulang tahunku? Seperti biasa. Kurayakan dengan membeli "serbu-serbu" untuk kantor. Tidak juga wah. Hanya beberapa bungkus canai. Ya, belakangan ini, aku menyebarkan virus-virus canai di kantor..Haha..

Aku sengaja, biar ada yang satu selera denganku. Kamu tahu? Makan sendiri itu tidak menyenangkan.

Sayangnya, kamu bukan orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Kamu lupa. Sifat yang masih belum bisa meninggalkanmu. Olehnya, hadiah yang kuminta tak muluk-muluk. Kamu hilangkan sifat pelupamu, itu sudah cukup.

Ulang tahunmu? Setidaknya aku ingat ulang tahunmu. Aku memberikan ucapan selamat di pagi hari, ketika kamu baru bangun. "Selamat ulang tahun, sayang" ucapku.

Kurasa itu cukup. Hadiahmu? Kamu tak meminta hadiah, syukurlah. Haha..

Bulan depannya, tepat 9 Oktober, kita merayakan ulang tahun pernikahan (jika mengucapkan selamat adalah bagian dari perayaan).
Pernikahan Kita, 9 Oktober 2016. Photo by Diwan

Namun, kita berdua bukanlah orang yang suka merayakan sesuatu dengan meriah. Paling  kerennya, kita merayakannya dengan makan bersama.

Ini ulang tahun pertama pernikahan kita. Sudah satu tahun saja ya.

Padahal aku belum sempat menulis tentang pertemuan kita hingga akhirnya kita menikah. Tentang itu, akan kutulis suatu saat. Insya Allah.

And then, terima kasih suami, yang sering kupanggil sayang. Kadang juga mas bro. Tak apalah ya. Mas bro itu keren loh. #syemogaa

Terima kasih. Sudah menerimaku apa adanya. Selalu sabar dengan segala tingkah dan marahku.

Aku harap kamu selalu bersabar. Karena beginilah aku.
Kamu sulit menghilangkan sifat pelupamu? begitulah susahnya aku mengubah sifatku.

Orang-orang bilang, dua sejoli yang ditakdirkan bersama itu memiliki karakter yang berseberangan. Perbedaanlah yang menyatukan mereka.

Laiknya magnet. Jika kutub berbeda bertemu akan saling tarik menarik, demikian sebaliknya.

Dan sepertinya itu benar. Contohnya kita. Aku dan kamu memiliki sifat yang bertolak belakang. 180 derajatlah pokoknya.

Kamu sangat sabar. Aku? tentu saja kebalikannya. Bukan aku ya yang bilang kamu sabar. Tapi orang-orang di sekitar. Bahkan hanya melihat fotomu saja, mereka sudah tahu kamu ini sabar. Warbiasah. Eh, tapi jangan kege-eran ding.. haha..

Nah aku? Ketahuilah. Aku ini orang paling "koro-koroang" dan moody sedunia. Moodku bisa berubah dalam hitungan detik. Emejing. Tapi ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Tapi kembali lagi, Tuhan mempertemukan aku dengan kamu karena saling melengkapi dan menyeimbangkan. Bisa bayangkan jika aku bertemu dengan yang sama sifat, bisa "perang dunia" tiap hari.

Mungkin bisa dikatakan seperti ini, ketika Tuhan ingin menciptakan manusia yang sabar, lahirlah kamu. Dan untuk menyeimbangkannya, Tuhan menciptakanku. Yin dan Yang begitu.

Sekali lagi, selamat. Semoga Tuhan senantiasa melimpakan rezeki, kesehatan, serta umur panjang kepada kita berdua. Semoga kita langgeng. (kin31/10/2017)






Selasa, 21 Februari 2017

Dia Pergi Kala Dinanti

Tahun berlalu begitu cepat. Baru sadar, ternyata sudah lama sekali aku tak menulis di blog ini. Ada banyak hal yang ingin kukisahkan, tapi terhenti diangan.

Well, akhirnya hari ini aku mulai menulis lagi. Aku sudah menikah. Tepatnya pada 9 Oktober 2016. Tentang pernikahanku, akan kuceritakan suatu waktu.

Kali ini aku akan berbagi tentang seseorang yang aku dan suamiku nantikan. Ya, anak kami, tepatnya calon anak kami. Dia pergi, kala kami menanti.
Jam menunjukkan pukul 22.30 Wita, Jumat 17 Februari 2017, ketika rasa sakit mulai mencengkram perutku. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidurku. Level sakitnya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Aku tak tahan lagi. Aku bangkit, sambil memegang perutku, untuk mengambil obat yang tadi diberikan dokter. (Dokter ini, seorang dokter pria paruh baya, baru kutemui sekali ini. Sebelumnya aku konsultasi dengan dokter perempuan yang juga paruh baya. Tentang kedua dokter ini, akan kuceritakan nanti).

Satu pil obat anti nyeri kuteguk bersama segelas air putih. Lalu kembali kurebahkan badanku di tempat tidur. Tidak, aku tidak sakit. Aku sehat.

Rasa sakit ini adalah efek dari obat yang diberikan dokter padaku, sekira pukul 20.00 Wita. Obat yang memupuskan harapanku untuk segera menjadi seorang ibu.

Ya, itu obat penggugur janin. Obat itu dimasukkan ke alat vitalku, beberapa menit usai dokter mendiagnosa bahwa janin dalam kandunganku tak bisa lagi diselamatkan. Kata dokter, janin dalam kandunganku tak berkembang dan detak jantungnya tak terdeteksi.

"Janinnya meninggal," singkatnya.

Dia, calon anak pertamaku, meninggal di usianya yang masih sangat muda. Sekitar tiga bulan, kata dokter. Sedih, tak usah ditanya. Tak tega, tapi mau bagaimana lagi. Harus dikeluarkan karena jika tidak akan berbahaya bagi diriku.

Efek obat itu sudah mulai terasa sekitar 21.30 Wita. Namun baru sangat terasa pada jam yang kusebutkan tadi.

Dokter memang sudah memperingatkan bahwa perutku akan perih dan akan keluar banyak darah. Tapi tak kusangka perihnya sesakit ini. Sakitnya tak kunjung reda meski obat anti nyerinya sudah kuminum.  Bahkan sakitnya lebih sakit dari sebelumnya.

Aku berbaring mengerang kesakitan. Sendirian. Tak ada orang di rumah.
Suamiku, seperti biasa, saat ini sedang berada di kantornya. Berjuang menuntaskan editan berita untuk terbit esok hari.

Jam pulangnya tak tentu. Kadang cepat, pukul 12 malam sudah tiba. Namun lebih sering lambat, pukul 1 dini hari. Bahkan kadang pukul dua dini hari baru tiba di rumah.

Dan sepertinya malam ini dia telat. Jam sudah menunjukkan pukul 24.00 Wita, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan suamiku.

Ya Allah, sakitnya teramat sakit. Jika dulu kukatakan sakit gigi adalah yang paling sakit, hari ini kuralat. Nyeri dan perih di perutku, di pinggulku, di selangkanganku, berkali lebih sakit dari sakit gigi. Rasa sakit itu diiringi muntah dan BAB. Bergantian.

Terbangun untuk ke kamar mandi semakin membuat bagian bawahku sakit. Tapi aku tak bisa menahan rasa ingin muntah itu. Pun untuk BAB.

Aku kesakitan. Aku mengerang, teriak. Mungkin tetangga sebelah mendengar teriakanku.  Tapi apakah itu penting. Sakitku tak peduli hal itu. This pain hurts.

Aku tak kuat lagi. Kuambil telpon genggam untuk menelpon suamiku. Tak ada jawaban, hanya bunyi tutt..tutt..tutt..lalu mati. Kucoba lagi, masih sama. Lagi, masih belum ada jawaban. Mungkin dia sudah di jalan, pikirku.

Kuletakkan kembali telpon genggam itu karena sakit kembali menyerang. Kupegangi perut dan kutekuk kakiku. Berharap rasa sakitnya berkurang. Tapi sia-sia. Sama sekali tak berpengaruh. Malah semakin sakit.

Aku kembali mengerang dan berteriak. "sayang..sayang..mama..mama," dua kata ini berulang kuteriakkan.

Aku kembali mengambil telpon genggam. Saat baru beberapa kali bunyi tutt, terdengar suara deruman motor di depan rumah. Itu suamiku, harapku. Dan syukurlah, itu memang dia. Kudengar dia membuka pintu rumah. Lalu segera menghampiriku yang masih berteriak.

Aku lega. Dia akhirnya tiba juga di rumah. Meski tak mengurangi rasa sakitku, setidaknya kehadiran suami di sampingku, bisa memberiku kekuatan. Suami duduk di sampingku. Dia membelai kepalaku.

Aku meringis kesakitan. Kucengkram lengannya saat tiba-tiba rasa nyeri itu meningkat. Dan kurasakan darah terus mengalir. Diikuti rasa ingin muntah.

Aku lagi-lagi ke kamar mandi dan langsung muntah. Ntah sudah berapa kali aku muntah dan BAB malam ini. Suami hanya bisa mengikutiku dari belakang. Setelahnya mengambilkan air untuk kuminum saat aku kembali berbaring.
Dua jam setelahnya kulalui dengan penuh kesakitan. Aku tak bisa terlelap. Segala cara kucoba, mengubah posisi tidur, menyamping, telentang, hingga duduk, tetap tak bisa. Sakit ini tak mengizinkan.

Rasa sakitnya sedikit mereda ketika aku mensugesti diriku. "Ini tidak sakit. Sakit ini bukan sakit. Anggap kamu sedang berada di tempat menyenangkan, (dan masih banyak lagi)" sugestiku untuk diriku. sedikit berefek.

Tapi seketika buyar kala rasa sakit yang teramat kembali hinggap. Kalau sudah begitu, aku langsung jongkok. Lalu kurasakan darah mengucur di bawahku. Dan setelahnya, lagi-lagi aku ke kamar untuk ganti pembalut. Entah sudah berapa banyak pembalut yang kupakai malam ini.

Aku tak ingat jam berapa hingga akhirnya aku bisa juga terlelap.  Suamiku juga ikut tertidur. Akhirnya sejenak rasa sakit itu tak menjamahku. Namun saat subuh menjelang, aku kembali dibangunkan oleh rasa sakit. Suamiku bergeming. Dia tetap terlelap. Wajahnya menampakkan kelelahan. Tak tega aku membangunkannya.

Lalu aku kembali berjongkok. Kurasakan sesuatu keluar dari alat vitalku. Namun berbeda dari sebelumnya. Aku ke kamar mandi. Dan ternyata benar, bukan cuma darah. Ada gumpalan, semacam kantong (kulit). Mungkin itu yang dokter maksudkan. Jaringan dari dalam kandunganku (yaitu kantong janin). Aku memegangnya, tertegun.

"Kodong, anakku," tetiba saja terlintas dalam hatiku.

Hatiku perih. Sedih. Ingin menangis, tapi air mataku tak mau keluar. Yah, aku terbilang susah mengeluarkan air mata. Tapi bukan berarti aku tidak sedih. Bahkan kadang air mataku memang tak keluar saking sakitnya rasa di hatiku. Mungkin subuh ini seperti itu. Rasa di hati terlampau sakit.

Hingga pagi hari, rasa sakit di perut, pinggul, dan selangkangan masih menyerangku. Namun sudah tak sesakit malam tadi. Ketika suamiku bangun, aku menunjukkan gumpalan-gumpalan itu (ya, jumlahnya ada empat. Tiga kali keluar dalam waktu yang berbeda).

Suamiku hanya meringis. Mungkin dia juga bingung mau bilang apa. "keluarmi.?" hanya itu yang dia ucapkan. "Iya. Tapi mungkin belum semuanya," jawabku.

Jelang siang, sakitnya perlahan berkurang. Tak sepenuhnya sembuh, tapi sudah mendingan. Kukatakan agar suami menelpon ibunya (mertuaku), memberitahukan keadaanku.

Suami menelpon sambil berbaring di dekatku. Setelah dia menjelaskan semuanya, telpon lalu diberikan kepadaku. Giliranku mengobrol. Ibu mertua menyarankan agar kami mengubur gumpalan-gumpalan itu.

"Bungkus dengan kain bersih," katanya.

Sekira pukul 5 sore lewat, kami menguburkannya. Setelah sebelumnya aku mencuci gumpalan itu dan membungkusnya dengan baju bersih. Bajuku. Suamiku yang menggali tanah lalu menguburkannya. Aku hanya bisa melihat dari jarak beberapa meter.

Aku terduduk dan terdiam beberapa saat. Barulah saat itu aku merasa kehilangan. Seperti ada yang lepas dari diriku. Aku merasa bersalah atas semuanya. Tapi aku ikhlas. Semua adalah kehendak Sang Pencipta.

Maafkan ayah dan ibumu nak. Terutama maafkan ibumu ini.
Maafkan ibumu yang malas makan sehingga nutrisimu tak tercukupi.
Maafkan ibumu yang suka begadang.
Maafkan ibumu yang suka marah-marah sehingga mempengaruhi kondisimu.
Sungguh, aku minta maaf padamu, nak.
Semoga kamu tenang di sana. Amin
*Calon ibu yang kehilangan calon anak pertama

Sabtu, 05 Juli 2014

Aku Bersyukur

Lama juga tidak menulis di tempat ini.. Tugas menjadi jurnalis, sedikit banyak menyita waktu untuk lebih fokus menulis sesuatu untuk kepentingan orang banyak, ketimbang mencurahkan perasaan melalui tulisan di tempat ini..

And then., kali ini, akan ku tuliskan tentang diriku, tentang rasa syukurku kepada Tuhan, pencipta segala alam semesta, kepada Tuhan, yang selalu menjadi teman dimana pun aku berada, dan kepada Tuhan, tempat kita kembali pada suatu saat.

Dear Tuhan....

Aku bersyukur.
Engkau ijinkan aku lahir dari keluarga sederhana (ketika miskin menjadi ungkapan tidak bersyukur, aku tak akan memakai kata itu). Meski pada akhirnya, Engkau terlalu cepat memanggil ayahku, saat aku berumur dua tahun lebih, saat kakak sulungku (laki-laki) berumur sekitar empat tahun lebih, kakak keduaku (perempuan) berumur tiga tahun lebih, adikku (laki-laki) belum genap setahun. Tapi Tuhan, ku anggap hal itu karena Kau lebih menyayangi ayahku. Jaga Dia di sisi_Mu, ya Allah.

Aku bersyukur.
Engkau berikan seorang ibu yang begitu tangguh. Tidak pernah ku lihat ibu setangguh beliau.
Di umurnya, yang masih muda, (ibu ku menikah kelas tiga SMA, berarti usianya saat itu sekitar 17 tahun. Sekitar lima tahun menikah, ayah pergi untuk selamanya. Ibu menjadi single parent di usianya, kalo perkiraan ku, 23 tahun. Aku tidak pernah bertanya langsung, berapa usia ibu ku saat ayah pergi)

Sejak kepergian ayah. Hidup kami berubah. Tidak banyak yang ku ingat. Anak usia dua tahun lebih, bisa ingat sebanyak apa. Satu yang ku ingat -entah ini ingatan atau imajinasi atau mimpi, entahlah, hal itu begitu nyata buat ku- saat aku bersama adikku mengikuti ibu dari belakang.

Ibu menangis, aku dan adikku juga. Mungkin aku menangis hanya karena ibu juga menangis. Mungkin. Sekelabat yang ku ingat, saat itu, kami tinggal nomaden, berpindah dari rumah sepupu ibu dan sepupu ayah.

Keluarga kandungku, kakak nenek dari ayah dan nenek dari ibu, pergi menghadap Ilahi terlalu cepat. Di pikirku. Karena saat aku lahir, aku hanya hidup bersama kakek dari ibuku.

Ayah hanya punya satu saudara laki-laki (itupun dia tinggal di negeri Jiran) dan ibu ku anak tunggal. Jadilah keluarga kandungku, hanya kakek, ibu, dan aku bersama tiga saudaraku hidup bersama di sebuah kampung kecil.

Mengapa kami tinggal nomaden, saat kami sebenarnya punya rumah.? Ya, kami punya rumah. Rumah peninggalan nenek dari ibu. Tapi, saat itu kakek ku menikah lagi, jadilah aku punya nenek tiri.

Sejauh yang ku ingat, nomadennya kami karena istri kakek ku mengusir kami dari rumah. Setelah ku pikir sekarang, ternyata hidup kami dulu rumit. Tapi mengerti apa aku dulu tentang semua itu. Yang jelas paling mengerti dan merasakan semuanya, Ibu ku.

Di usianya saat itu, ibu harus berjuang menafkahi empat anaknya, tanpa tahu harus berlindung kepada siapa. Tapi Tuhan selalu punya tujuan di balik segala cobaan. Dan Ibu, dipikirku, sangat paham akan hal itu.

Ibu merupakan wanita yang kuat dan juga tegas. Dari cerita yang ku dengar dari dia, - entah usia ku berapa saat itu, pastinya sudah cukup untuk mengerti - ibu mengajukan syarat kepada kakek.

Ibu bersedia pergi dari rumah asalkan kakek membelikan tanah dan rumah untuk kami. Kakek setuju, dan jadilah kami tinggal agak jauh dari rumah kami sebelumnya - masih dalam kampung, letaknya dekat dari sungai.

Lagi, cerita dari Ibu, tanah tersebut seharga Rp 800 ribu kala itu, sejauh cerita yang ku ingat. Aku lupa, tahun berapa kala itu.

Rumah kami, ya rumah kami bukan rumah yang baru dibangun dari kayu baru yang dikerjakan oleh pembuat rumah. Rumah kami adalah rumah orang lain - rumah panggung - yang kami beli dengan harga, mungkin lebih murah, dibanding membangun yang baru. Saat suatu rumah dibongkar dan dibangun kembali tanpa ada tambahan, bentuknya tidak akan sama, kekurangan tampak di mana-mana.

Saat rumah kami selesai dibangun dan kami pindah ke sana, belum ada pintu menutupinya. Saat itu, ibu menutupinya dengan "karoro" (entah bahasa Indonesianya apa, benda tersebut di kampung kami digunakan untuk menjemur gabah atau cokelat), dan beberapa kayu agar tidak terbang.

Sedikit banyak, aku ingat pintu darurat itu. Aku lupa berapa lama pintu itu bertahan hingga akhirnya, kami punya pintu permanen.

Tahun berlalu, tidak banyak yang ku ingat, hingga aku masuk sekolah dasar.

Aku bersyukur.
Engkau senantiasa memberikan rezeki kepada keluarga kami, dari arah yang tak kami sangka-sangka. Meski kondisi kami sederhana, aku dan saudara-saudara ku tetap bisa sekolah

Ibuku, saat sekolah merupakan siswa cerdas saat sekolah. Begitu pula ayahku. Ibuku, selalu dapat peringkat di kelas, suka dan pintar dalam pelajaran matematika.

Mengapa aku tahu, apakah ibu yang menceritakannya pada kami.?

Bukan.
Cerita itu, tanpa ku minta akan selalu ku dengar saat kenaikan kelas. Bukan untuk menyombongkan diri, aku dan saudara-saudaraku, bisa dibilang cukup pintar di kelas -jika peringkat adalah ukuran kepintaran.

Aku pribadi, saat SD tidak pernah keluar dari tiga besar, kadang aku peringkat pertama, kadang juga dua atau tiga. Dua kakakku lebih pintar dari ku. Sedang adikku, mungkin sama denganku.

Saat kami mendapat peringkat di kelas, baik guru maupun masyarakat sekitar mengatakan hal tersebut wajar. Mereka bilang "pintar memang itu mama dan bapakmu". Aku, hanya tersenyum jika mendengar kata itu hampir di setiap kenaikan kelas.

Bagaimana kami bisa tetap sekolah dan bagaimana ibu membiayai kami.? Bagian ini, membuatku semakin bangga kepada ibu ku yang mampu mengatur keuangan sedemikian rupa.

Kakekku, seorang pensiunan veteran. Setiap bulan menerima gaji dari pemerintah, nominalnya tidak pernah ku ketahui secara pasti, atau mungkin aku lupa.

Gaji tersebut, bukan hanya untuk kakek dan ibu ku, tetapi juga untuk istri kakekku. Jadilah gaji tersebut, dibagi tiga setiap bulannya.

Ibu bertugas mengambil gaji tersebut setiap bulannya di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal kami. Saat itu, transportasi umum yang ada di kampung kami adalah perahu, mengingat di kampung kami ada sungai yang merupakan sungai terpanjang di Sulsel, setahuku sih, yakni Sungai Saddang.

Sungai tersebut menjadi akses terpopuler saat itu karena kondisi jalan di kampungku menuju desa lain belum terlalu bagus. Masih dipenuhi semak belukar dan bebatuan.

Ibu sesekali pergi mengambil gaji dengan trasportasi perahu tersebut. Kadang ibu membawaku turut serta. Meski ada perahu, ibu tidak selalu memilihnya. Kadang ibu dan aku, berjalan kaki melewati beberapa desa - seingatku empat desa, mungkin lebih- untuk mengambil gaji.

Daerah tersebut letaknya di kota. Usai berjalan kaki dan tiba di desa terakhir, kami menyeberang menggunakan perahu untuk ke desa seberang, nantinya di desa itu, kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang mobil angkutan umum.

Mengapa kami harus jalan kaki untuk sampai ke desa tadi, sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya. Aku juga tidak pernah bertanya.

Mungkin, ini hanya aku yang menerka-nerka, hal tersebut untuk menghemat biaya, atau paling optimis, hal itu karena mungkin saat itu, perahu sedang full atau sedang tidak beroperasi. Perahu di kampungku, beroperasi di hari-hari pasar, dua kali seminggu, seingatku.
Kalo ku pikir-pikir lagi, mungkin itu sebabnya aku kuat berjalan jauh karena dari kecil sudah terbiasa. Mungkin.

Kakak dan adik laki-laki ku juga sesekali menemani ibu. Kami bergantian menemaninya. Tapi seingatku, aku yang paling sering menemaninya.

Kemana kakak perempuanku, kenapa dia tidak pernah menemani ibu ku.? Bagian ini, akan kuceritakan di lain waktu, insya Allah.

Oia, selain gaji tersebut, kami juga sekolah dari beasiswa. Mulai SD hingga SMA, kami mendapat beasiswa. Tapi aku lupa apa kakak pertamaku dan adikku dapat beasiswa saat SMA atau tidak. Kakak perempuanku, sejauh yang ku ingat, juga selalu mendapat beasiswa.

Beasiswa yang ku dapat, beasiswa kurang mampu. Padahal kalau dipikir-pikir, aku bahkan bisa mendapat beasiswa prestasi. "Ini mungkin terlalu pede". Tapi mungkin pihak sekolah lebih melihatku dari sisi itu.

Saat kuliah, aku juga mendapat beasiswa. Masih beasiswa kurang mampu, bedanya, beasiswa tersebut bukan sekedar tidak mampu, tetapi juga berprestasi yang diberikan sebuah perusahaan perbankan.

Mendapat beasiswa tersebut merupakan kebanggaan tersendiri buatku. Betapa tidak, aku menjadi satu diantara 38 orang terpilih yang menerima beasiswa tersebut. Kami bersaing dengan 8.858 mahasiwa dari seluruh universitas di Indonesia. Beasiswa tersebut membiayai kuliah ku dari semester dua hingga selesai (semester delapan).

Oke, baiknya kita kembali ke cerita sebelum aku kuliah. Banyak cerita yang ku lewatkan.

Kakak pertamaku, selesai SMK (dia memilih sekolah kejuruan jurusan teknik elekto) tahun 2005, kakak perempuanku, selesai tahun 2006, dan aku kelar SMA tahun 2007.

Kakak pertamaku, tidak melanjutkan kuliah. Dia memilih bekerja. Dia, di mataku, sosok paling dewasa dan bertanggung jawab.

Mungkin karena alasan ekonomi, dia tidak melanjutkan kuliah, tidak mau membebani ibuku. Saat dia selesai sekolah, aku masih duduk di kelas dua dan kakak perempuanku kelas tiga SMA.

Kakak perempuanku, kelar SMA, melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan keperawatan. Dua kakakku, dari jurusan yang mereka pilih, menandakan ketertatikan dan kemampuan mereka di bidang eksakta.

Dari mana biaya kuliah kakakku.?

Oia, aku lupa. Selain gaji kakek dan beasiswa, kami juga hidup dari hasil kebun dan sawah. Kebun kami tidak seberapa luasnya, tapi cukup untuk biaya sehari-hari.

Sedang sawah, dipercayakan kepada orang lain untuk menggarapnya dengan sistem bagi hasil, ibuku tidak bisa begitu bisa bertani sawah, sedang kakakku masih terlalu muda.

Usai sekolahpun, kakakku tidak bertani, dia memilih mencari kerja di kota, sambil mencari kerja yang lebih baik. Saat itu, kakakku kerja di tempat orang sebagai karyawan toko yang belakangan ku tahu, gajinya tidak seberapa kala itu.

Selain sumber penghasilan yang ku sebutkan, biaya hidup kami juga berasal dari hasil kerja ibu. Ibu kerja paruh waktu menjadi buruh panen padi, saat musim panen tiba.

Aku saat SMP juga sesekali ikut dengannya. Meski pertama kali kerja, aku muntah-muntah dan lemas karena sinar matahari yang begitu terik. Bisa bayangkan panasnya, saat kami bekerja dari pagi dan istirahat pada pukul 12 siang, sejam kemudian kami harus kembali bekerja.

Namun, itu tidak membuatmu kapok. Aku akhirnya bekerja paruh waktu di setiap musim panen. Ibu bukannya tidak melarang, dia berkali-kali mencegahku.

Namun, menjadi buruh panen, di kampungku, juga banyak dilakukan anak lainnya. Gajinya memang tak seberapa dibanding orang dewasa, tapi aku juga ingin mempunyai uang dari hasil keringat sendiri. Akhirnya ibu mengijinkan.

Kakak dan adikku juga sama sepertiku. Sesekali ikut jadi buruh panen padi. Alasannya sama denganku, ingin punya uang dari hasil kerja sendiri.

Aku tidak selalu satu kelompok dengan ibu ku. Saat musim panen tiba, ada beberapa kelompok pekerja yang terbagi atas mesin penggiling padi. Setiap mesin dioperasikan oleh beberapa orang, dan orang lainnya bertugas memanen.

Awal menjadi buruh panen, ibu bekerja di bagian mesin karena gajinya lebih besar. Tapi belakangan, kala itu, penyakit mata ibuku beresiko kambuh sehingga ibu beralih menjadi buruh panen biasa, memotong padi dari batangnya.

Sebelum lupa, aku hanya ingin memberi sedikit informasi, flashback ke masa-masa sebelumnya. Usai menikah - entah beberapa bulan setelahnya, lagi-lagi aku tidak pernah bertanya, kedua orang tuaku merantau ke negeri Jiran. Seperti kebanyakan suku Bugis lainnya, keduanya juga mencoba peruntungan nasib di negeri orang.

Ingat saudara ayahku yang kuceritakan tadi.? Ya, ayah dan ibuku ku tinggal bersamanya di negara tersebut. Sekitar empat atau lima tahun orang tuaku disana, ini hanya cermatku saja, karena aku dan dua saudaraku lahir disana.

Saat ibu tengah mengandung adikku, mata ibu sakit. Sakit apa, aku tidak begitu paham. Yang aku tahu, ayah dan ibuku, pulang ke kampung untuk mengobati sakitnya.
Mata ibu akhirnya sembuh. Selang berapa lama setelah adikku lahir, ayahku pergi untuk selamanya. Seingatku, ibu pernah bilang, umur adikku saat itu sekitar sembilan bulan.

Rencana awal datang mengobati mata ibu ku di kampung, ternyata menyimpan makna lain dengan kepergian ayah. Akhirnya kami menetap di kampung kelahiran ayah dan ibuku.

Keinginan ibu untuk kembali ke negeri Jiran pun pupus seiring kepergian ayah. Ditambah harus mengurus keempat anaknya yang masih balita. Ibu, single parent terhebat di dunia ini.

Jika Tuhan berkehendak, maka tak seorangpun bisa menghalanginya. Tuhan memberikan kesempatan untuk bisa kembali menginjak negeri Jiran tersebut, tapi bukan ibuku, melainkan aku.

Bagaimana bisa aku kesana dan kenapa aku harus kesana.? Bagaimana hidup kami sekarang, ibu, aku, dan saudara-saudaraku.?

*Guys, jam sudah menunjukkan pukul tiga. Sampai disini dulu ceritaku. Lain waktu insya Allah, aku lanjutkan lagi betapa besar rasa syukurku kepada Tuhan, melalui kisah yang Dia berikan padaku.

Ini hari ke-8 puasa ramadan 1435 H. Sudah waktunya menyiapkan makanan untuk sahur untuk diriku sendiri. Nasib anak kos, tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan menikmati bulan puasa ini dengan segala rezeki yang Tuhan berikan.

###Cerita ini bukan untuk membagi dukaku. Hanya ingin berbagi cerita bagaimana mensyukuri nikmat Tuhan apapun yang terjadi.

Kamis, 16 Januari 2014

Tuntutan Hidup

Kita hidup di dunia ini, selalu dihadapkan dengan berbagai tuntutan. Baik dari keluarga, lingkungan, maupun orang lain. Mulai dari kecil hingga tua sekalipun, kita tidak bisa lepas dari tuntutan-tuntutan tersebut. Saat masih bayi, kita dituntut untuk dapat merangkak, jalan, berbicara, dsb. Merangkak ke usia tujuh tahun, kita dituntut untuk bersekolah. Sekolahpun sebisa mungkin hingga SMA. Kalo perlu ya, hingga S1, S2, dan seterusnya. Apakah tuntutan segera berakhir saat kita sudah lulus menjadi seorang sarjana.? Jawabanya tidak. Justru tuntutan itu semakin besar. Kita dituntut untuk bisa hidup mandiri. Mandiri dalam arti harus segera mendapatkan pekerjaan agar hidup tidak lagi bergantung pada kedua orang tua. Setelah dapat kerja, muncul tuntutan baru. Ya, kita dituntuk agar segera mendapatkan pendamping hidup alis suami/istri. Lepas menikah, ditanya apakah sudah punya anak, kemudian ditanya apakah sudah punya cucu, dan seterusnya, dan seterusnya. Pertanyaan yang menjadi tuntutan dalam hidup. Yah, inilah hidup kawan. Inilah rute kehidupan yang memang harus dijalani bagi manusia yang hidup bersosial.

Berbicara mengenai hal di atas, saya pribadi sudah sampai pada tahap lulus sarjana. Tuntutan yang paling dekat saat ini adalah mendapatkan pekerjaan. Tahukan kawan.? Sungguh, mencari pekerjaan yang sesuai dengan diri kita itu amatlah susah, bagi saya ya. Ini hanya berdasar pada pengalaman saya. 

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, saya tidak langsung mencari kerja. Pulang ke kampung dulu karena dipikiran saya, nanti saat sudah mendapatkan pekerjaan akan susah untuk berlibur ke kampung. Pikirku. Ku pikir, akan mudah untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Tapi deh, ternyata susah. Pas kembali ke Makassar, sayapun melamar kerja di sebuah wedding photography. Yah, memang saya diterima. Namun, cuma sebulan saya bisa bertahan karena berbagai alasan. Setelah keluar dari WO tersebut, kembalilah saya menjadi seorang pengangguran. Kemudian saya mencari pekerjaan, lagi.

Kerjaan saya sehari-hari adalah duduk di depan laptop sambil menuliskan kata kunci lowongan kerja Makassar di om google. CC demi CV saya kirimkan ke email perusahaan yang membuka lowongan. Tapi diantara sekian banyak yang saya kirimi, hanya satu atau dua yang membalasnya. Balasan berupa panggilan kerja. Bukankah itu bagus.? Tidak. Sama sekali tidak. Karena itu semua adalah penipuan. Jadi bagi para pencari kerja, jangan asal percaya. Teliti dulu baik-baik isi emailnya. Biasanya para penipu mengatasnamakan perusahaan besar. Perhatikan baik-baik tanda tangan pimpinan perusahaanya, karena yang pernah saya dapat, tanda tangan yang ada hanya berupa scan-an. Bukan tanda tangan asli.

Okey lanjut. Gagal mencari di online, sayapun beralih ke jobfair. Di jobfair, biasanya akan banyak perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi percayalah, diantara sekian banyak perusahaan yang anda masukkan lamaran, masih untung jika ada panggilannya. Ya, berdasarkan pengalaman, saya telah mengikuti tiga kali jobfair. Banyak peruasahaan besar di ketiga jobfair tersebut, dan sekitar lima belas CV dan surat lamaran saya sebar. Ingin tahu berapa yang ada balasannya.? Cuma dua. Rentang waktunya pun lama

Setelah mendapat balasan, saya pun mengikuti tes psikotes di perusahaan pertama. Hasil tes akan diumumkan dua minggu setelah tes. Sama halnya dengan tes di perusahaan kedua. Dan waktu menuggu itulah yang menyebabkan saya melewatkan banyak momen. Saya tidak jadi ke pulau Cangke, tidak jadi ke Ramma', dan yang paling sedih tidak jadi ke NURANIx adik-adik KOSMIK 2013. Sigh. Untuk mendapatkan sesuatu memang butuh pengorbanan. Lewat dua minggu, tidak ada tanda-tanda sms masuk. Itu artinya saya tidak lulus. Sedih bercampur kecewa, terlebih jika mengingat hal yang saya lewatkan tadi. Tapi ya sudahlah, memang bukan rejeki kali ya.

Gagal mendapatkan pekerjaan tidak membuat saya putus asa. Justru saya semakin bersemangat. Dan akhirnya, semua usaha tidak sia-sia. Saya kini mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang memang saya cita-citakan selama ini. Wartawan. Alhamdulillah.


Kamis, 12 September 2013

Late Post, "My Birthday"...

Sudah enam hari berlalu sejak aku merayakan ulang tahun ku yang ke-24, tepatnya 7 september 2013.
Tak terasa usiaku sudah hampir seperempat abad. Tidak banyak yang berubah dariku, menurutku. Semua tampak sama. Satu-satunya yang secara pasti berubah hanyalah usia.

Apa yang berubah hanyalah bahwa sekarang aku bukan lagi seorang mahasiswa. Setelah empat tahun lamanya merayakan ulang tahun sebagai mahasiswa, kini tidak lagi. Kupikir hanya dua hal itu yang berubah. Selebihnya, sama.

Aku masih sama dengan diriku beberapa tahun lalu. Emosi yang belum stabil, cita-cita yang belum terarah dengan jelas, serta jati diri yang masih sangat samar. Terlalu banyak pertanyaan yang selalu berseliweran dalam otakku, aku hidup untuk apa, bagaimana sebenarnya aku harus hidup, apakah selama ini hidupku sudah benar, apakah sudah ada yang kulakukan untuk orang-orang sekitar.?
Ah, bahkan untuk diri sendiri pun aku ragu telah melakukan sesuatu untuknya.

Hidupku selama ini begitu datar, menurutku. Ataukah memang hidup hanya seperti ini.?
Lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, tua, dan mati. Yah, mungkin memang begitulah takdir hidup semua orang.

Namun, terlepas dari semua pertanyaan itu, aku secara pasti, mengucapkan syukur yang sebesar-besar_Nya kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat hidup untukku hingga saat ini. Tuhan yang tidak pernah meninggalkanku. Tuhan, satu-satunya makhluk mutlak yang kepadanya kepercayaan mutlak pula.
Terima kasih, Tuhan.

Minggu, 07 Juli 2013

Graduation Day

Sebenarnya, hari wisuda telah berlalu sejak dua minggu yang lalu. Namun, zy baru punya kesempatan untuk menuliskannya saat ini.

24 Juni 2013 adalah hari yang sangat berkesan dan bermakna bagi saya, dan tentunya bagi orang-orang yang wisuda hari ini. Apa yang diperoleh hari ini adalah hasil kerja keras selama tiga tahun delapan bulan. Mengikuti kuliah, kerja tugas-tugas dari dosen, turun di lapangan, magang, dan KKN. Kegiatan yang melelahkan namun akan zy rindukan. Hari ini, zy beserta delapan teman angkatan resmi di wisuda yang menandakan bahwa kami sudah pantas menyandang gelar sarjana, S.sos. Hari ini, seorang teman yang seposko KKN dengan zy juga di wisuda. Yah, pokoknya hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Anyway, langsung aja yuk liat foto-foto zy dan teman-teman.
My Family
(left to right - k'Sukri, Mama, Me, and Andang), minus k'Ana
Genk Gunta
(left to right - Dayan, Inna, Unie, Amhel, Me, and Alien)
Teman CURE
 (left to right - Erbon, Inna, Me, Unie, Lia, Alien, Ratna, and Amhel), minus banyak2..

Teman CURE yang sama-sama wisuda
(left to right - Rina, Mymy, Gina, Titah, Me, and Unie), minus Mala, Pionk, and Putra


Then, abis foto-foto, masing-masing dari kami sibuk dengan keluarga.
Pada kesempatan ini, zy ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk datang di hari wisuda kami.

Photo by : Amhel, Erbon, dll.

Jumat, 08 Februari 2013

Balada Laptop Rusak

Dua hari yang lalu, laptop kesayangan tiba-tiba tidak mau menyala. Entah mengapa bagitu. Padahal sebelumnya masih bisa nyala dengan baik masih sempat zy pake dengar musik malah di winamp.

Laptop yang rusak membuatku uring-uringan. Zy pusing, tidak tau harus bagaimana. Dalam waktu dekat, zy harus menyelesaikan proposal zy. Tapi kalo begini kondisinya, sepertinya akan susah. Zy pusing tujuh keliling.

Hari ini hari pertama FIGURnya anak 2012, tapi zy tidak pergi. Zy tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini. Nanti bawaannya sensi melulu. Jadi ku pikir lebih baik tidak usah pergi. Dan lagi hari ini zy habiskan untuk mencari info tentang cara memperbaiki laptop zy. Bahkan zy sampai bertemu dengan orang yang sama sekali tidak zy kenal (dia temannya Mas nasi uduk), anak teknik elektro.

Demi laptop pun zy akhirnya menginjakkan kaki di fak.teknik elektro lt.4. Dengan tampilan yang jelas berbeda dari mahasiswa disana, zy beranikan diri melewati mereka, tanpa menoleh. Zy terlalu asing untuk berusaha berinteraksi. Dengan susah payah, akhirnya sampailah zy di lt.4 dan bertemu dengan orang yang dimaksud. Dia langsung ngecek laptop zy, selang berapa lama dia ngajak ngobrol. Dia bilang "sepertinya yang rusak itu motherboardnya, zy tidak bisa perbaiki yang seperti ini".

Huft, kecewa, jelas. Tapi zy tidak boleh menyerah, insya Allah besok zy akan pergi lagi ke tempat servis laptop. Maaf untuk sementara, zy tidak bisa berpartisipasi dalam FIGUR.
Zy harus menyelesaikan masalah zy dulu...

Jika laptop zy tidak normal dengan segera, tidak ada harapan untuk proposal zy. Tuhan, tolong...

Selasa, 22 Januari 2013

Kebodohan Malam Ini

Beberapa hari belakangan zy sangat malas memakai sisir. Kenapa.? Yah, karena zy malas mencuci sisir. Zy adalah orang yang tidak suka memakai sisir yang kotor. Coba pikir, kalo kita abis keramas lalu menyisir rambut dengan sisir yang kotor kan sama saja bohong. Jadinya rambut akan kembali kotor.

Dan pada akhirnya, entah kenapa pas tadi zy ke Mtos, zy tiba-tiba tertarik membeli sisir. Salah satu yang membuat tertarik adalah hargax murah. Ahahaa,,siapa sih yang tidak suka barang murah. Alhasil zy membeli sisir tersebut 3 in 1. Yah, dalam satu bungkus ada tiga buah sisir dengan bentuk yang berbeda.
Sampai di rumah zy pun mencoba sisir tersebut. Mulai dari yang bentukx biasa hingga yang aneh. Aneh, karena seumur-umur, baru kali ini zy membeli sisir seperti itu. Memang ini bukan yang pertama zy melihatnya, tapi untuk memiliki ini yang pertama kali. Bentukx kurang lebih seperti roll rambut, hanya saja duri-durix lebih panjang.

Jumat, 28 Desember 2012

Kelestarian Air Minum Untuk Kelangsungan Hidup Kita Bersama


Air adalah sumber utama kehidupan. Semua makhluk hidup membutuhkannya. Bumi ini sebagian besar terdiri dari air, begitu pula dengan tubuh kita. Mengapa saya katakan sebagian besar dari bumi ini terdiri dari air? Itu karena memang bumi tempat kita berpijak di kelilingi oleh lautan. Air laut termasuk air juga kan.. Air, sepengetahuan saya terbagi atas air tawar, air asin (air laut), dan air payau (air hasil percampuran air tawar dan air laut). Ikan di laut membutuhkan air asin untuk hidup, ikan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di air payau pun membutuhkan air. Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan membutuhkan air tawar untuk kelangsungan hidup.  Itu sepengetahuan saya. Namun, saya menemukan pada sebuah tulisan bahwa ternyata air terdiri atas air bersih, air es (glaser), dan salju permanen. (lihat paragraf ketiga).
Seperti yang pernah saya dengar, 80% tubuh kita terdiri dari air. Air memiliki fungsi yang sangat besar dalam kerja organ-organ tubuh. Kurangnya air dalam tubuh akan mengakibatkan dehidrasi sehingga penyakit akan mudah datang. Oleh karena itu, air sangat penting untuk kehidupan kita agar kita tetap sehat.
Namun tahukah anda bahwa saat ini dunia sedang sedang terancam kelangkaan air bersih. Seperti sebuah tulisan yang saya kutip berikut,

Selasa, 18 Desember 2012

Foto Ruang Tajam Sempit part II

Hay guys..pa kabar nih..semoga baik2 ya semua.
Zy mau berbagi foto nih. Foto ruang tajam sempit, khususnya foto close-up, meskipun dalam foto ini ada juga yang bukan close-up. Zy pribadi sangat suka foto close-up, apalagi foto tumbuh-tumbuhan atau binatang.

Oia, sebelumnya zy udah pernah berbagi foto dengan konsep yang sama. Sebelumnya, namax Cass_Photograph. Namun, kata teman zy mending pake nama asli aja biar jelas. Jadix zy pake nama deh yaitu Kina_Photograph. Hahaaa...

And this is it...

f/5.6 , S 1/320 , ISO 200

Sabtu, 20 Oktober 2012

Gunung Bulusaraung, Pangkep, Part II

Setiap perjalanan pasti punya cerita berbeda, right.?
Anyway, sebelumnya zy udah nge-posting perjalanan ke Bulusaraung zy yang sebelumnya. Nah, tanggal 13 Oktober 2012 kemarin, zy kembali jalan-jalan kesana. Namun kali ini zy pergi dengan teman yang berbeda.
Kali ini zy ke Bulusaraung bersama teman-teman yang tergabung di W-PALA. Apa itu W-PALA.?
Untuk lebih jelasnya, silahkan tanya sendiri pada pendirinya. Cuma zy sendiri masih bingung siapa pendirinya. Hahaa...oke, kita tinggalkan saja pembahasan ini.

Then, kami berjumlah delapan orang. Tujuh orang cowok dan zy satu-satunya kaum hawa yang ikut di pendakian kali ini. Dan sudah jelas siapa yang paling manis diantara semuanya.. Hahaa... (Ini ngomong apa ya zy..) Intinya kami berangkat di Sabtu pagi, hmm tepatnya dini hari. Abis berdoa, kami langsung go...

Seperti biasa, zy nda usah panjang lebar ya. Mending liat foto-foto.
Lets see....

 
W-PAL

Jumat, 28 September 2012

Gunung Bulusaraung, Pangkep

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya 31 Agustus 2012, zy dan empat orang teman jalan-jalan ke Bulusaraung. Bulusaraung adalah sebuah gunung yang berada di kabupaten Pangkep. Kalo ditanya tingginya, zy sendiri tidak tahu. Jujur, zy sendiri tidak pernah mengukurnya. Tapi menurut om google tingginya 1200 Mdpl. Benar ato tidak zy juga tidak tahu. Sekali lagi, zy tidak pernah mengukurnya secara langsung. Hehee...
Zy tidak bakal bahas banyak mengenai Bulusaraung. Sebab zy yakin sudah banyak tulisan mengenai hal ini. Mungkin zy lebih banyak membagi foto.
Let's see...

Tempat Camp (pos 9)

Kamis, 06 September 2012

Terima Kasihku Untuk Tuhan


Malam ini sedikit dingin, kawan. Menemani kesendirian ku di kamar berukuran 2x3m. (Doh, kok tiba2 jadi galau gini).

Apapun, malam ini, dan mewakili hari2 yang telah lalu, aq ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untukku menjumpai tanggal 7 september untuk kesekian kalinya. Yah, tepatnya untuk ke-23 kalinya.
Terima kasih untuk_Nya yang selama ini telah dengan sabar menemani segala sifat jelekku.
Terima kasih telah menyayangiku lebih dari siapapun.
Terima kasih telah menjadi teman curhatku, tempatku berkeluh kesah ketika tidak ada lagi orang yang bisa ku percaya.
Terima kasih telah menuntunku, memberi petunjuk ke jalan yang benar.
Terima kasih telah menerima diriku dengan segala kekuranganku.
Terima kasih, Tuhan. Your my best friend, forever..

Pada kesempatan kali ini pula aq ingin minta maaf. Minta maaf pada_Mu Tuhan.
Maafkan aq atas segala dosa yang telah ku perbuat.
Maafkan aq atas janji2ku pada_Mu yang selalu ku ingkari.
Maafkan aq jika terkadang keluar dari jalan yang telah Engkau tunjukkan.
Maafkan aq atas segala keegosianku.
Maafkan aq jika pernah meragukan kehadiran_Mu
Maafkan aq, Tuhan...

Terima kasih atas 7 September yang telah qw berikan. :D

Kamis, 30 Agustus 2012

Serba Serbi KKN, lagi...

Sebelumnya, zy sudah menulis sedikit tentang KKN ini. Hmm, ato mungkin tepatnya share foto. hhe..

Oke lanjut.
KKN atau lebih lengkapnya Kuliah Kerja Nyata adalah sebuah program wajib dari Universitas sebagai salah satu syarat untuk lulus kuliah. Tidak KKN sama saja dengan tidak ingin lulus kuliah. Semua mahasiswanya kena, tidak ada yang luput darinya. Begitupun zy tentunya.

Banyak cerita mengenai KKN, mulai dari yang menyenangkan, menyebalkan sampai mengkhawatirkan.
Yah, zy sendiri sih cuma mendengar dari senior. Banyak yang mereka katakan. Cuma mereka bilang nda usah khawatir. Bawa asyik aja, maka semua akan baik-baik saja.

Sebenarnya zy sendiri tidak khawatir, meski tempat KKN nantinya adalah tempat yang sama sekali baru bagi zy. Katanya juga tempatnya nanti di kampung, akses kendaraan susah, sinyal apalagi. Air juga kadang2 sulit didapatkan. Tapi katanya tidak semua begitu. Bisa saja tempat kita masih ada hal2 yang tadi jika kita beruntung di tempatkan di kecamatan.

Dan sepertinya, zy termasuk dalam orang beruntung tersebut. Meski zy tidak di tempatkan di posko kecamatan, namun kami tinggalnya di kecamatan. (Bingung..? zy juga bingung gimana bahasakannya.)
Gini, zy di tempatkan di posko Limpomajang, Kec.Majauleng bersama enam teman zy yang lain. Namun, berhubung pak lurah Limpomajang tinggalnya di Paria (tempat posko kecamatan berada), maka kami pun tinggal di Paria. Sehingga untuk ke posko Limpomajang, kami setidaknya harus pergi dengan naik motor. yah, sekitar beberapa menitlah begitu. Perbatasannya tidak seberapa jauh memang.

Kamis, 19 Juli 2012

Serba Serbi KKN 82

Hello semua. Lama juga blog ini saya anggurin. Yah, terlalu banyak kegiatan membuat saya tidak punya cukup waktu untuk ngeposting tulisan di blog ini.

Key then. Kali ini saya mau berbagi sedikit cerita tentang KKN. Yuph, tahun ini saya sudah KKN, karena sks sudah mencukupi. Hmm, mulai darimana ya ceritainya.

Kemudian saya berubah pikiran. Hahaa...
Mungkin kali ini saya cuma mau berbagi foto saja dulu. Saya saat ini masih kekurangan ide untuk menuliskan perjalanan selama KKN.

Lets see.. :)

Empat personil posko Limpomajang. (Kurang tiga orang..hahaa..)

Cop..zy paling keren.. :=))

Sedang menjalankan proker foto keluarga

Rusak.. Wkwkwk....

Foto bareng personil SD 390 Limpomajang

Segitu dulu ya. Insya Allah postingan berikut bakal lebih lengkap tulisan dan foto-fotonya. :-D


Photo by : Aan & Asrul

Sabtu, 07 April 2012

Pulau Cangke, Pangkep...

Negara Indonesia terdiri dari beribu pulau. Kita semua tahu itu. Tapi, tahu saja tidak cukup kalo belum bisa mengunjungi. Tidak usah banyak-banyak. Cukup satu sajalah dulu dan yang mudah kita jangkau.
Suatu kebanggaan bagi saya pribadi bisa mengunjungi salah satu pulau yang berada di Indonesia, tepatnya Pulau Cangke, Pangkep, Sulawesi Selatan. Meski tak seindah pulau Bali, namun pulau Pulau Cangke cukup menarik untuk anda kunjungi. 

Pulau Cangke merupakan bagian dari Kepulauan Pangkep. Namun, untuk sampai kesana kita bisa berangkat dari pelabuhan Paotere. Untuk ke pulau Cangke kendaraan yang digunakan adalah perahu. Lama perjalanan sekitar tiga jam dari pelabuhan Paotere. Sekedar pemberitahuan saja bahwa sebelum berangkat, pastikan segala kebutuhan selama disana telah lengkap. Seperti air bersih (untuk dipakai masak dan minum), makanan tentunya, alat tidur (SB), tenda (untuk anda yang berniat camping), dan pakaian secukupnya (anda tentu ingin mandi bukan), serta jangan lupa obat-obatan (untuk jaga-jaga, kesehatan orang siapa yang tahu).

Mengapa hal tersebut di atas sangat dibutuhkan.? yah, untuk memastikan bahwa anda baik-baik saja selama berada di pulau tersebut. Di pulau ini, ketersedian air bersih sangat kurang, air bersih yang ada pun hanya air hujan yang ditadah. 

Sebelum lanjut, mari saya perkenalkan terlebih dahulu siapa-siapa saja yang tinggal di pulau. Pulau ini dihuni oleh sepasang suami istri yaitu Dg. Abu dan Dg Te'na. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai Dg. Abu dan Dg Te'na KLIK DISINI

Rabu, 28 Maret 2012

Lomba Foto Sadar Wisata 2012

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia mengadakan Lomba Foto Pariwisata 2012, dengan total hadian jutaan rupiah.. Ayo kawan, sama-sama kita mengikuti lomba ini. Untuk info lebih lanjut  KLIK DISINI...

Pengalaman KAB

Beberapa hari yang lalu, dosen mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya memberi tugas untuk menuliskan pengalaman saat berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Berikut yang sempat saya tulis...

Berbicara mengenai komunikasi antarbudaya, saya akan mencoba menceritakan sedikit mengenai pengalaman saya ketika di Malaysia dulu, tepatnya di Lahad Datu, Sabah. Jika kita lihat di peta, Sabah terletak di atas pulau Kalimantan. Bahkan seandainya Sabah menjadi wilayah Indonesia, maka ia akan menjadi Kalimantan Timur. Namun karena Sabah merupakan bekas jajahan Inggris, maka masuklah Sabah menjadi salah satu propinsi milik Malaysia.

Saya ke Sabah karena dipanggil oleh tante untuk membantunya dalam beberapa hal. Untuk sampai di Sabah, prosesnya tidaklah mudah. Apalagi pendatang illegal seperti saya. Sebenarnya, saya tidak sepenuhnya illegal. Saya memiliki surat lahir Malaysia (saya lahir di Malaysia, tepatnta Sabah). Namun, peraturan keimigrasian dan kependudukan di Malaysia sangatlah ketat. Jika sampai umur 12 tahun kita belum memiliki IC (kalau di Indonesia sebutnya KTP), maka surat lahir tidak akan berlaku lagi. Kecuali jika ada yang menjamin, yaitu ayah. Namun, karena ayah saya sudah meninggal dan hingga umur 12 tahun saya belum memiliki IC. Maka jadilah saya penduduk illegal di tanah kelahiran sendiri.

Minggu, 04 Maret 2012

Saya Tahu, Saya Salah

Hidup ini bak roda yang terus berputar. Kadang kita di bawah dan kadang di atas. Yah, perkataan itu sudah sangat sering terdengar di pelosok negeri ini. Kita hidup di dunia ini sebagai makhluk sosial yang setiap harinya dipenuhi dengan segala permasalahan yang kompleks. Namanya juga hidup, kalo tidak ada masalah, yah bukan hidup namanya.

Begitu pula yang menimpa diri saya pribadi. Saya hanyalah satu diantara sekian banyak manusia yang memenuhi ruang di muka bumi ini. Saya hanya akan bermakna ketika saya berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitar saya. Keluarga, teman, sahabat, bahkan musuh sekalipun adalah orang-orang yang membuat saya masih memiliki makna hidup di dunia ini.

Saat ini saya tinggal di Makassar demi melaksanakan sebuah tanggung jawab sosial yaitu kuliah. Supaya nantinya bisa berguna bagi masyarakat, semoga. Tinggal jauh dari orang tua tidak membuat saya merasa sendirian. Saya sangat bersyukur memiliki sebuah keluarga di kampus Unhas yang katanya besar ini. Yah, saya memiliki keluarga yang sangat sempurna menurutku, KOSMIK. Tempat saya berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Saya memiliki keinginan yang sangat besar untuk membuat KOSMIK menjadi sebuah organisasi yang menyenangkan, yang semua orang nyaman di dalamnya. Melakukan ini dan melakukan itu untuk KOSMIK. Tapi, pada akhirnya saya melakukan sebuah kesalahan.

Kata-kata yang saya ucapkan tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan. Katanya ingin melakukan apa saja untuk KOSMIK. Tapi nyatanya, baru awal-awal saya sudah melanggar komitmen yang saya bangun sendiri.
Saya tahu, Saya Salah. Namun, saya tidak ingin larut dalam kesalahan itu. Seseorang pernah bilang, kita tidak akan tahu kebenaran jikalau kita tidak pernah salah. Yang paling penting adalah tidak melakukan kesalahan yang sama. Semoga ke depannya, saya tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi.

Sabtu, 03 Maret 2012

Selamat Ulang Tahun, Cubo

Hari kamis kemarin, tepatnya 1 Maret 2012, seorang sahabat berulang tahun. Namax Cubo, lengkapnya Azwar Marzuki. Kalo ditanya kenapa nama aslinya sangat berbeda dengan nama panggilannya, saya juga kurang tahu. Di hari ulang tahunnya yang ke-21 ini ia mendapatkan kado yang sangat istimewa, menurutku. Sebab, bulan ini ia resmi menjadi ketua KOSMIK periode 2012/2013. Selain itu, kami juga memberi surprise. Yah meskipun cuma sekedar menghadiahkan sebuah kue tart. Namun, bagi kami tidak peduli apa pun hadiahnya, yang paling penting adalah kami ikhlas dan kami peduli padanya. Kami akan selalu bersamamu.

Selamat ulang tahun our beloved friends, wish u all the best.